Awalnya #1
Sejak kecil, saya sudah suka pakai pernak-pernik. Kalau kata bapak saya, dari kecil memang saya sudah modis. itu istilah bapak saya, lho. istilah sebenarnya sih bukan modis, krn saya jauuuh dari modis. misalnya nih, ketika anak-anak seusia saya pada ogah pakai kalung bermanik-manik kayu, nah saya dengan cueknya pakai kalung manik kayu warna-warni kemana. atau, ketika orang lain nganggep cewek pakai anting panjang itu norak, nah saya dengan PD-nya pakai anting yang ting kriwil di telinga kanan-kiri.
saya ini orang yang paling enggak senang mengikuti mode. kesannya pasaran, sih. males, kan, kalau kita pakai baju/aksesoris yang sama dengan dikenakan semua orang sejagat raya ini. saya lebih suka tampil di luar kelaziman. meskipun dianggap norak, tapi yah itulah saya. saya memang norak dari sononya.
semakin kesini, sifat nyentrik saya terhadap pernak-pernik semakin menjadi. ketika sebagian besar perempuan yg berprofesi seperti saya tampil "polos", saya selalu menambah sedikit pernik di setiap penampilan sehari-hari. entah itu kalung, anting bulat besar, gelang keroncong yang rame, atau yang lainnya. jadi, meskipun harus meliput kasus kriminal di pelosok desa terpencil di ujung dunia, pakai aksesoris mah kudu teuteuuuup.
ketertarikan saya terhadap aksesoris terpuaskan ketika di jkt belakangan ini musim bazar. di setiap bazar besar, pasti bertebaran penjual aksesoris lucu-lucu. saya selalu kalap kalau datang ke sebuah bazar. selalu saja ada satu-dua-atau sepuluh "barang lucu" yang segera pindah ke dalam tas saya. bahkan tak jarang. barang lucu itu langsung saya pakai di tempat itu juga. duh, dasar ganjen, ya.
naaaah, kesenangan saya terhadap pernak-pernik itu ternyata membawa saya ke dalam sebuah fase lain dalam hidup. saya sekarang ini sampai pada kesadaran, tidak ingin lagi bertindak sebagai pembeli yang kalap setiap melihat aksesoris dipajang di bazar. Cukup sudah masa kegilaan saya menyerbu bazar-bazar buat beli printal-printil kayak gitu itu. sekarang ini, saya memutuskan untuk tidak lagi jadi konsumen, malainkan menjadi pembuat (serta penjual) barang-barang lucu itu. Nah!
saya ini orang yang paling enggak senang mengikuti mode. kesannya pasaran, sih. males, kan, kalau kita pakai baju/aksesoris yang sama dengan dikenakan semua orang sejagat raya ini. saya lebih suka tampil di luar kelaziman. meskipun dianggap norak, tapi yah itulah saya. saya memang norak dari sononya.
semakin kesini, sifat nyentrik saya terhadap pernak-pernik semakin menjadi. ketika sebagian besar perempuan yg berprofesi seperti saya tampil "polos", saya selalu menambah sedikit pernik di setiap penampilan sehari-hari. entah itu kalung, anting bulat besar, gelang keroncong yang rame, atau yang lainnya. jadi, meskipun harus meliput kasus kriminal di pelosok desa terpencil di ujung dunia, pakai aksesoris mah kudu teuteuuuup.
ketertarikan saya terhadap aksesoris terpuaskan ketika di jkt belakangan ini musim bazar. di setiap bazar besar, pasti bertebaran penjual aksesoris lucu-lucu. saya selalu kalap kalau datang ke sebuah bazar. selalu saja ada satu-dua-atau sepuluh "barang lucu" yang segera pindah ke dalam tas saya. bahkan tak jarang. barang lucu itu langsung saya pakai di tempat itu juga. duh, dasar ganjen, ya.
naaaah, kesenangan saya terhadap pernak-pernik itu ternyata membawa saya ke dalam sebuah fase lain dalam hidup. saya sekarang ini sampai pada kesadaran, tidak ingin lagi bertindak sebagai pembeli yang kalap setiap melihat aksesoris dipajang di bazar. Cukup sudah masa kegilaan saya menyerbu bazar-bazar buat beli printal-printil kayak gitu itu. sekarang ini, saya memutuskan untuk tidak lagi jadi konsumen, malainkan menjadi pembuat (serta penjual) barang-barang lucu itu. Nah!

0 Comments:
Post a Comment
<< Home